Sabtu, 29 Januari 2011

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part1)

Other POV

Semarang, 15 Agustus 1994
Sore itu pukul 18.00 Mega masih tampak berkeliaran di tengah lapangan, memantul-mantulkan bola basketnya. Sementara Pelangi sudah berkutat dengan piano klasiknya.
Pelangi dan Mega adalah 2 saudara kembar yang dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1980. Mereka kembar, namun sangat jauh berbeda. Mereka dilahirkan dari sepasang composer musik klasik ternama di kotanya. Oleh karena itu orangtua mereka menginginkan kedua anaknya menjadi pianis terkenal. Namun sayangnya hanya Pelangi yang tampaknya dapat mewujudkan itu. Karena Mega lebih menyukai dunia olahraga dan fotografi. Walau sangat ditentang kedua orangtuanya dia tetap saja “ngeyel” dan terus berkutat dengan dunianya itu. 

Megantari Amara Putri Rahardian
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 dan Mega masih berada di lapangan. Dia malas pulang, karena tentu saja dia akan diomeli mamanya karena pulang malam. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang karena perutnya sudsah minta untuk diisi, walau resikonya diceramahi sampai pagi. Itulah Mega, cuek tingkat tinggi. Ditengah jalan ia bertemu Rain, tetangga sekaligus sahabatnya dari kecil dan juga satu sekolah dengan Mega dan Pelangi. Oh ya, mereka sekarang berusia 15 tahun dan duduk dibangku kelas 1 SMU. Rain menemani Mega berjalan yang wajahnya sangat kusut sekaligus tegang karena akan segera mendapat omelan dari sang mama.
“Hei, kamu kenapa? Kusut banget,” sapa Rain yang mengagetkannya dari belakang.
“Biasa lah. Siap menerima gempuran dari nyoya besar” sahutnya seperti biasa, yang mungkin sudah dihapal luar kepala oleh sahabatnya itu.
“Udah aku duga. Hahhahahahaaha. Siapa suruh nakal” kata Rain samba mengacak-acak rambut Mega yang basah karena keringat.
“Huh!” sahut Mega kesal.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Mega. Rumahnya tampak sepi. Pintu gerbangnya pun tertutup rapat, yang biasanya terbuka setengah kalau Mega belum pulang.
“Kok sepi banget. Pada kemana?” tanya Rain yang sedari tadi celingak-celinguk.
“Mana aku tau. Pada keluar kali. Untung gak dikunci. Masuk dulu yuk” ajak Mega.
Tanpa pikir panjang Mega langsung menarik tangan Rain dan masuk ke dalam rumahnya.
“Eh, duduk dulu deh. Aku mau mandi dulu”
“Pantesan ada bau apa gitu. Ternyata kamu belum mandi”
“Ihhhh..” Mega melempar bantal besar kesayangannya kea rah Rain yang sengaja diletakkan di ruang tengah kalau-kalau dia ketiduran saat menonton televisi.
“Nihh..” Mega menyodorkan segelas air jeruk kepada Rain.
“Cepet banget kamu mandi. Masih bau tau,” ejek Rain.
“Enak aja. Aku tu mandi cepet tapi bersih. Gak lelet-lelet kayak kamu, tapi tetep gak bersih” balas Mega.
“Eh, bulan depan ada festival foto di Kota Lama. Ikutan yuk” ajak Rain yang juga gemar fotografi.
“Mmmm boleh boleh tuh. Obyek fotonya apa? Trus trus hadiahnya gede gak ? Kalo gak aku gak mau ikut, hehehe”
“Dasar mata duitan. Obyek fotonya sih bebas. Tapi kata kakak aku yang pernah ikutan biasanya yang menang tuh foto yang obyek fenomena gitu. Ya gak harus fenomena alam, bisa juga kayak kejadian di kehidupan sekitar kita. Kayak misalnya kecelakaan, pencurian, atau bahkan foto cowok lagi nembak cewek. Pasti menang tuh. Hahahahahaha”
“Ihhhh.. Gak penting banget yang bagian akhir tuh. Aku mau ikut ah. Aku udah ada ide buat obyek foto. Sebenarnya udah lama aku siapin sih. Cuma baru ada momen yang pas buat ditampilin.”
“Palingan laut lagi. Bosen ah.”
“Enak aja. Ini lain dari yang lain. Gimana kalau kita pergi ke bukit. Disana kan banyak tuh obyek foto yang keren. Kita ambil aja view dari atas bukit. Di bawahnya ka nada kayak perumahan penduduk gitu yang lumayan padat. Nah kan masuk temanya. Trus kita gabungin juga sama pemandangan disana. Jadinya lengkap kan.” Jelas Mega panjang lebar.
“Mmmmm. Boleh juga. Tumben pinter.”
“Enak aja. Selallu tauk”
Tiba-tiba penghuni rumah itu sudah pulang dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Eh, Rain. Dari jam berapa ?” sapa Pelangi yang baru datang. Dia menggunakan gaun dan tampil cantik. Seperti datang dari pesta.
“Eh, dari tadi sih, dari sejam yang lalu. Kamu dari mana? Rapi banget.” goda Rain.
“Dari acara launching album temen papa. Aku masuk dulu ya, mau ganti baju” kata Pelangi yang langsung beranjak ke kamarnya yang bertuliskan PELANGI di pintu kamarnya.
“Eh, ada Rain” sapa mama si kembar yang ramah.
“Iya tante. Aku lagi rundingin masalah pelajaran di sekolah sama Mega. Ya udah tante aku pulang dulu ya, udah malam. Permisi tante,” pamit Rain yang langsung menuju pintu rumah Mega dan hanya tersenyum kepada papa si kembar.
“Besok bawain aku konsep fotonya” SMS Rain kepada Mega yang sebenarnya ingin diberitahu Rain saat tadi masih di rumahnya, namun mamanya keburu pulang dari pesta.

Pagi hari di sekolah.
Mega tampak berlari-lari mengejar seseorang. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah sahabat laki-laki satu-satunya, Rain. Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu yang ternyata masalah festival foto itu.
“Nihh” kata Mega yang terengah-engah karena lelah berlari.
“Okee. Ntar aku koreksi sama kakak aku deh. Kamu kenapa? Lari dari rumah?”
“Iya. Lari ngejer kamu dari rumah ! Cepet banget sih jalannya. Udah yuk ke kelas. Capek,” bentak Mega yang tidak memperdulikan wajah Rain yang kebingungan.
            Pelajaran pertama adalah kesenian alias kelas music. Pelajaran yang sungguh membosankan bagi Mega. Namun sangat menyenangkan bagi Pelangin yang sangat menyukai music. Apalagi sekarang pembina mereka adalah ayah Mega dan Pelangi. Hari yang sungguh sial bagi Mega. Nilai musicnya tidak pernah bagus. Padahal mama dan papanya selalu membina Mega bermain music. Tapi memang dasarnya Mega tidak suka music, malah benci. Namun hari ini dia tidak bisa bolos pelajaran music lagi, karena sang papa yang mengajarnya. Arrrrrgggghhhh….
“Sial, aku gak bisa bolos hari ini.” gerutu Mega pada Rain.
“Yaelah. Tenang aja kali, ga. Lagian kan yang ngajar papa kamu.”
“Ihh lebih gak enak di ajarin papa daripada Bu Rita. Aku pasti kena bentak terus”
“Mega, Rain. Coba kalian mainkan salah satu alat music di depan” kata Pak Rahardian, papa Mega dan Pelangi, tiba-tiba mengagetkan.
“Tuh kan. Mati deh kita ! Pasti gara-gara kita ngobrol tadi.” Gerutu Mega lagi.
“Aduuhhh. Kok aku ikut kena sih?” gerutu Rain juga.
Dengan terpaksa dan dengan seadanya mereka memainkan gitar dan piano. Dan kegaduhan pun terjadi di ruangan itu.
            Di rumah sepulang sekolah.
            Mega mendapat omelan habis-habis dari sang papa gara-gara permainan pianonya yang hancur tadi saat pelajaran music.
“Kamu itu mau menghina papa ya? Permainan kamu tadi benar-benar membuat papa malu. Rahardian Dwi Putra seorang composer kondang di kota ini punya anak yang permainan pianonya jelek seperti itu. Mau taruh dimana muka papa Mega? Tadi itu di depan teman-teman kamu, apalagi di depan murid-murid papa di sekolah music? Coba kamu contoh adik kamu Pelangi. Sudah pintar, tekun, lembut, pintar main pianonya. Nah kamu pintar gak terlalu, malas, kasar, ugal-ugalan. Mau jadi apa kamu nanti? Pemain basket atau fotografer? Apa yang bisa diharapkan dari itu? Coba kamu sering ikut latihan dengan adik kamu, pasti permainan piano kamu tidak sehancur tadi. Mega Mega. Papa capek harus ngomong hal ini sama kamu. Kamu gak pernah ngerti” omel sang papa panjang lebar. Tanpa menjawab perkataan papanya Mega langsung berlari ke kamar dan menangis.
            Di dalam kamar, Mega menangis namun tak bersuara sedikit pun. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan mama dan papanya juga Pelangi. Berkali-kali terdengar suara ketukan pintu dari sang mama dan Pelangi namun ia tidak menggubris. Ia tetap diam dan tidak mengubris. Bahkan Rain sampai datang ke rumahnya untuk membujuk Mega keluar. Namun Mega tetap diam dan tenggelam ke dalam bantal besarnya yang empuk. Di atas tempat tidurnya Mega menulis di dalam diarinya:
Kenapa sih aku dibanding-bandingin terus sama Pelangi ? Apa aku memang jauh lebih buruk dibanding dia ? Apa aku tidak ada baiknya di mata papa dan mama? Apa aku salah menggemari basket dan fotografi ? Itu keahlian ku. Kalau masalah piano itu urusan Pelangi. Aku gak suka piano. Aku berharap tidak terlahir dari keluarga komnposer seperti ini. Aku ingin berteriak tapi aku tak bisa. Aku terlalu lemah. Sangat lemah dan lelah.
Akhirnya Mega tertidur pulas dengan air mata yang masih bercucuran di pipinya.


~continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar