Pelangi Rengganis Putri Rahardian
Sementara itu di luar, Pelangi dan Rian mengobrol masalah Mega.
“Ngi, si Mega kenapa sih ? Kok sampe segitunya. Aku takut dia kenapa-napa,”
“Tadi tuh Mega dimarahin abis-abisan sama papa gara-gara tadi di sekolah permainan pianonya jelek. Papa ngerasa malu punya anak kayak dia. Kata-kata papa itu yang nyebabin Mega sampe kayak gitu. Aku tau rasanya jadi Mega. Pasti sakit banget digituin,” cerita Pelangi. “Bahkan aku ngerasa iri sama dia. Dia bisa bebas mengekspresikan dirinya. Sementara aku diatur jadwal mama dan papa. Udah kayak robot. Kalau boleh aku mau tukeran sama Mega, aku jadi Mega dan Mega jadi aku,” lanjut Pelangi.
Rain hanya melongo mendengar cerita sahabatnya itu tentang saudara kembarnya yang ternyata mereka saling menyayangi dan saling peka, walau dalam kenyataannya mereka tidak terlalu dekat. Hening setelah itu. Tidak ada yang berbicara satu pun. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pelangi masih tidak percaya papanya tega berbicara seperti itu kepada Mega, yang tidak langsung melukai perasaannya juga. Sementara Rain heran Mega bisa bereaksi seperti itu dan bahkan menangis. Padahal sebelumnya Mega jarang menangis. Akhirnya Rain pamit dan hanya menitipkan salam untuk Mega. Dan Pelangi masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Pelangi hanya termenung memikirkan Mega. Ia ingin menghibur Mega namun ia takut mengganggu keadaan hati Mega yang sedang galau. Ia hanya menulis diari di atas tempat tidurnya:
Aku gak ingin dibanding-bandingin sama Mega. Aku adalah Mega. Mega adalah aku. Selamanya kami itu sama. Kami mempunyai ikatan batin yang kuat. Satu terlukai maka yang satu terlukai pula. Aku gak tega ngeliat Mega menangis seperti itu. Walau ia berusaha terlihat kuat, namun hatinya sangat lemah. Seandainya dapat ditukar, aku ingin menukarkan diriku dengan Mega agar dia menjadi anak kesayangan mama dan papa.
Pelangi pun tertidur dengan pulas.
~continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar