Minggu, 20 Maret 2011

LIKE AN IDIOT

~FanFiction~

Nama Author    : KyuTeuk_EunHae
EUNHYUK’S POV
“Yak, yak, Lee Hyuk-Jae, mau kemana kau, hah?” teriak Leeteuk hyung saat aku baru melangkahkan kaki keluar dorm. Aish, dia ini, tidak senang sekali melihat aku bahagia. Masa mau menghirup udara segar sebentar saja susahnya minta ampun?
“Eh, hyung? Sedang apa hyung disini? Apartemenmu kan di atas.”
“Memangnya ada larangan aku datang kesini? Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan! Mau kemana kau siang-siang begini? Nanti malam kan kita ada jadwal. Kau mau melarikan diri, ya?”
“Yak, hyung, bisakah kau berhenti berpikiran negatif tentangku? Aku hanya mau keluar sebentar cari udara segar. Bosan di dorm terus menerus. Aku kan juga butuh penyegaran. Masa tiap hari yang kulihat hanya wajah kalian saja!”
“Apa katamu? Kau bosan melihat wajahku? Hyuk~a, kau tidak suka lagi melihat wajahku? Kau sudah tidak menyayangiku lagi?” Tiba-tiba saja entah darimana datangnya Donghae sudah berdiri di belakangku. Matanya tampak berkaca-kaca. Aish, jinjja, anak satu ini sensitif sekali. Dasar ikan Mokpo!
“Lee Donghae, kau ini cengeng sekali! Bukan begitu maksudku! Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar, menyegarkan pikiran. Siapa tahu nanti aku bisa bertemu gadis cantik. Aku ini kan bukan homo yang sudah puas kalau melihat wajah kalian saja!”
“Gadis cantik? Aku ikut, ya? Kau harus mengajakku! Jebal!”
“Mwoya? Shireo! Aku ingin pergi sendiri!”
“Hyuk-Jae~a, kau benar-benar tidak menyayangiku lagi?”
Aku menatap Teukie hyung memohon bantuan. Aigoo, dia ini memang dekat denganku, tapi bukan berarti pasangan ikan harus selalu bersama kemana-mana, kan?
“Donghae~ya, kau di dorm saja! Bagaimana kalau aku menemanimu latihan akting? Kau bilang aktingmu masih jelek, kan? Kau mau dimarahi sutradara lagi?” bujuk Teukie hyung.
“Aish, benar. Ya sudah, lebih baik aku latihan denganmu saja hyung daripada pergi dengan orang yang tidak mengharapkan kehadiranku!”
“Ya ya ya, maksudku bukan seperti itu!” ujarku merasa tidak enak.
“Hahahaha… akhirnya pasangan EunHae tamat! Sungmin hyung, saatnya kita tunjukkan kekuatan kita!” seru Kyuhyun yang akhirnya mengalihkan tatapannya dari laptopnya dan ber-high five dengan Sungmin hyung. Dasar magnae kurang ajar! Awas saja dia nanti!
Aku memberi senyuman terima kasih pada Teukie hyung dan bergegas pergi sebelum ada lagi yang menghentikanku. Urusan Donghae biar kuurus nanti saja, yang penting aku ingin sekali menghirup udara segar! Hoah, sudah lama sekali aku tidak punya waktu luang. Terlalu banyak kegiatan, sampai aku tidak sempat mengurusi diriku sendiri.
Aku menghentikan mobilku di depan sebuah taman yang cukup sepi. Sebelum turun aku memastikan kacamata hitam dan topi yang aku kenakan berhasil menyamarkan wajahku dengan baik, aku sedang tidak mau dikejar-kejar fans saat ini.
Aku duduk di atas kursi besi di bawah sebuah pohon rindang yang menghadap ke jalan. Angin musim semi berhembus pelan, membuatku merasa nyaman. Aku mengeluarkan MP3 dan mnemasang headset di telingaku. Ah, indahnya hari ini!
Aku memperhatikan sekelilingku, orang-orang yang berlalu-lalang dengan bebas dan melakukan apa yang mereka inginkan, hal yang sekarang tidak lagi aku miliki. Ah, tapi jangan berpikir aku menyesal dengan kehidupanku yang sekarang. Tidak sama sekali. Aku malah bersyukur memiliki keluarga baru yang amat sangat menakjubkan, Super Junior dan ELF-ku. Hanya saja aku terlalu lelah, kegiatan yang banyak begitu menghimpitku, tapi itu semua akan sirna setelah aku menghirup udara segar sendirian seperti saat ini. Aku hanya butuh energi baru. Itu saja.

Sabtu, 29 Januari 2011

50 Kebiasaan Lucu Dan Aneh Super Junior


1.Ciuman pertama leeteuk itu di box telepon umum dan saat itu sedang hujan di malam hari . so sweet~~Kyaaakkk

2.Saat masih menjadi trainee banyak banget yang ngga berani ngedeketin Heechul karna sosoknya yang katanya nyeremin tapi hanya Jessica yang berani deketin dia. Nah, jadi Heechul sering mengaku klo dia dan Jessica adalah kembar.

3. Alesan KiBum masuk suju!! What? Saat di amerika pas Kibum pulang sekolah lagi dengerin lagu sambil dance lalu salah satu org dari SM melihat kibum dan akhirnya kibum pun ikut audisi dan berhasil.wEW

4. Leeteuk pernah gag sengaja kentut di sukira dan gag mau ngaku dan akhirnya ketahuan sama kangin.LOL!!

5. Kesan ciuman pertama kyuhyun adalah “bibirnya basah” wew ==’ *hehe,, yang masih di bawah umur maap*

6. Leeteuk ingin menikah dengan elf dan leeteuk berjanji akan mengundang smua elf . *Yang ini gue tau,soalnya Leeteuk pernah bilang ndiri*

7.Impian aneh Sungmin adalah ingin pergi jauh dan ingin tinggal di pulau yang gag berpenghuni

8. Sungmin ingin cepat2 menikah dan mempunyai banyak anak

9. Sungmin pernah 2 kali kehilangan dompetnya. dompet pertama gag di ketemuin , tpi dompet kedua di balikin oleh seseorang. bruntung tuh yg nemuin dompetnya sungmin. kekekek~

10. Kyuhyun gag jago masak tapi suka makan, Leeteuk sama Kangin pernah frustasi karena ngajarin Kyuhyun masak tapi gag bisa-bisa.

11. kyuhyun terkaya ke 3 di anggota suju setelah siwon yang pertama dan sungmin ya ke 2 $.$

12. kyuhyun jago matematika dan selalu mengerjakan soal-soal matematika untuk mengisi waktu luang.

13.Eunhyuk punya banyak fans di Paris!! Eunhyuk sangat menyukai Dragonball. Dia mempunyai botol airnya dan semua seri manga lengkap.

14.Sungmin adalah orang yang mengajarkan Sunny ‘SNSD’ main gitar. Saat bersama Sunny dan Sungmin sering tanding main game.

15. Kyuhyun kalau ketawa susah berhentinya dan bisa sakit perut sendiri gara-gara dia cape katawa dan kalo udah beberap menit berhenti Kyuhyun pasti akan ketawa lagi ,Kyuhyun juga suka main starcraft

16.Dulu Eunhyuk paling gag deket sama hangeng, soalnya Hangeng bilang kalo Eunhyuk ngomong cepet banget, kaya kereta ekspress yang remnya rusak, jadi Hangeng ribet ngertinya. Kalo Eunhyuk nanya “Apa?”. Hangeng jadi tambah kesel

17.Ryeowook engga pernah mau bawa payung dan dia bisa tidur selama 18 jam sehari kalo engga ada jadwal, walaupun gampang banget nangis ternyata Ryewook peminum terberat ke 4 dari 13 anggota

18. Yesung paling demen ama Musim gugur, dia bermimpi mau ke kanada.

19 Ki Bum suka kucing, kelinci, dan jeruk
tapi engga suka apel, tikus, musim panas, musim gugur, dan angka 9.

20. Kangin dengan percaya dirinya bilang kalo dia pria paling tampan No,1 di Korea. Terus walau dia sering emosional tapi sebenarnya di orang yang berhati hangat dan bikin orang kangen.


SUPER JUNIOR INGIN KE INDONESIA

Seperti yang kita tau, hari ini, 29 januari 2011, diadakan SS3 di Singapore. Para ELF indonesia antusias banget buat dateng ke konser ini. Dengan harapan oppadeul kita bisa ngeliat semangat ELF indo yang sayang dan cinta banget sama mereka juga berharap indonesia bisa masuk list Super Show 3.
Kayaknya harapan para ELF indo selama ini bakal terwujud. Gak sia-sia deh perjuangan ELF indo mulai dari ngasi medali emas buat para oppadeul kita, jadi LADY HEE HEE, masang spanduk gedeee banget, dan masih banyak lagi perjuangan ELF indo.


Soalnya, tadi pas SS3SG para oppadeul kita mention (menyebutkan) INDONESIA :)

Leeteuk: Kami senang bertemu para fans Indonesia.
Pertama, kami mengucapkan salam kepada para fan Indonesia.

Shindong: Kami belum pernah bertemu secara langsung,
tapi kami benar-benar mau ke Indonesia.

EunHyuk: Saya pernah lihat fan Indonesia yang menyanyikan lagu kami di internet,
jadi terima kasih banyak atas perhatian dan kasih sayang kepada kami dari jauh sana.
Kami mengharapkan dapat pergi ke Indonesia, dan bertemu dengan anda sekalian.

Sungmin: Untuk membayar kembali perhatian anda,
kami akan segera datang ke Indonesia, jadi tunggu sebentar ya?

Yesung: Iya. Kami berharap anda semua tetap mencintai kami.
Terima kasih.

Leeteuk: Terima kasih sekali atas kasih cinta anda. Kami sudah mengunjungi ke banyak negara di Asia, tetapi sayang sekali kami belum pernah ke Indonesia.
Kami harus datang ke Indonesia dengan kelihatan lebih menarik. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Disini dulu, kami SuperJunior. Sampai jumpa!!

Semoga aja deh semua harapan kita bisa terwujud dan INDONESIA masuk dalam list SUPER SHOW 3 :)
FIGHTING !!

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part4)

Other POV

            Mama, Papa, Pelangi, dan Rain sudah berkumpul di kamar Mega. Menunggu Mega terbangun setelah tadi ia mengigau menangis dan berteriak. Mereka khawatir dan terus berusaha membangunkan Mega.
            Akhirnya setelah beberapa saat, Mega terbangun dari tidurnya. Pelangi langsung memeluk erat tubuh kakaknya sambil menangis. Kemudian Papa pun memeluk Mega dengan erat.
“Maafin Papa, Mega. Papa salah. Papa tidak mengerti perasaanmu. Pelangi sudah menceritakan semuanya dan Papa sudah membaca diari mu. Maafin Papa,” kata Papa sambil terisak.
Ternyata pertemuannya dengan nenek itu hanyalah mimpi. Pelangi ternyata juga mengalami mimpi yang sama sehingga ia memberanikan diri untuk masuk ke kamar Mega dan membaca isi diarinya.
Mega hanya tersenyum dan memeluk erat Papanya. Disertai Mamanya, Pelangi, dan juga Rain.
*****

Mega dan Rain menjadi juara pertama Lomba Festival Foto di Kota Lama dan diangkat menjadi Duta Lingkungan kota Semarang karena hasil pengambilan gambar mereka dengan tema “lingkungan kumuh di balik bukit yang asri”.
Papa dan Mama Mega sangat bangga terhadap Mega karena keberhasilannya dibidang fotografi. Ternyata selama ini Papanya salah. Oleh karena itu Mega dizinkan untuk mendalami bidang ini dan bahkan ia akan disekolahkan di sekolah fotografi.
Mega dan Pelangi tetap sama walau berkuatat di bidang yang berbeda. Karena mereka satu hati, satu raga. Mega dan Pelangi memang kembar, namun tidak sama. Mereka mempunyai keahlian dalam bidangnya masing-masing.
~ J J ~

Semarang, 23 Mei 2010
Mega dan Rain kembali ke Semarang setelah menyelesaikan tugas pekerjaan di Surabaya. Mega dan Rain ingin mengajak anak mereka untuk mengunjungi bukit tempat mereka memulai kesuksesan. Mega berkeliling di perkampungan yang kini menjadi asri. Mega ingin mengunjungi nenek yang dahulu ditemuinya dalam mimpi. Ia mencari-cari nenek itu namun ia tak menemuinya. Padahal gubuk nenek itu masih ada karena Mega menginginkannya untuk tetap ada di perkampungan ini. Dan akhirnya Mega melihat nenek itu di atas bukit. Nenek itu tersenyum dari atas bukit yang paling tinggi dan kemudian menyatu dengan matahari. Mega membalas senyuman itu bersama anak dan suaminya.
#####

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part3)

Other POV
(flashback)

             Mega terbangun dari tidurnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan menyiapkan alat fotografinya. Bahkan ia memasukan beberapa baju ke dalam ranselnya. Ia keluar lewat pintu belakang agar tidak terlihat oleh orang-orang di rumahnya. Namun tanpa kesadarannya, Pelangi mengikutinya dan memberitahu Rain untuk mengikuti Mega juga.
            Mega pergi ke Kota Lama untuk melihat foto-foto yang pernah menjadi juara dalam festival ini, siapa tahu ia langsung mendapat inspirasi. Ia juga memotret-motret sekitaran Kota Lama. Lalu ia beranjak mengandarai bus menuju daerah bukit yang pernah diceritakannya kepada Rain. Ia ingin mencari ketenangan di atas sana. Pelangi dan Rain masih mengikutinya.
            Sesampainya di bukit ia mengambil nafas panjang dan mulai mendaki gunung kecil itu ke puncaknya. Mega ingat waktu ia dan Pelangi masih kecil sering diajak berlibur mama dan papanya ke bukit ini. Dan saat mereka sudah sampai di puncak bukit, mereka turun dengan cara berguling-guling di atas rerumputan. Mega tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca. Ia mengitari daerah bukit dan turun ke permukiman warga yang cukup padat. Sesekali ia mengambil gambar beberapa penduduk yang ada di sana. Hingga akhirnya ia melihat sebuah gubuk kumuh yang ditempati seorang wanita tua yang sangat renta. Ia mendatangi nenek itu. Nenek itu hanya tersenyum dan member isyarat untuk mengikutinya. Mega langsut menurut dan mengikutinya. Nenek itu mengajaknya ke puncak bukit. Seketika tiba-tiba Mega merasakan memori lamanya kembali terputar. Saat ia tertawa bersama keluarganya, piknik di bawah bukit, berguling-guling bersama Pelangi. Semuanya kembali terputar. Dan tanpa sadar Mega menitikkan air mata. Ia seperti rindu dengan keluarganya yang dulu. Sangat rindu. Ia pun berlutut sambil menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Rasa sakit hatinya masih terasa akibat perkataan papanya waktu itu. Ia marah, marah sekali. Namun kemudian memori kembali terputar ketika papanya menangis karena khawatir terhadap Mega yang terserempet mobil, papa yang mengajarinya menghitung. Rasa benci itu kemudian berubah menjadi rasa cinta yang begitu besar. Nenek itu lalu tersenyum dan berkata “Mereka menyayangimu, Mega”. Seketika itu juga nenek itu menghilang, membiarkan Mega merenungi perkataannya tadi. Mega menangis, keras sekali. Hingga ia lelah dan tertidur pulas dibawah binaran sang mentari.

~continue

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part2)

Pelangi Rengganis Putri Rahardian
Sementara itu di luar, Pelangi dan Rian mengobrol masalah Mega.
“Ngi, si Mega kenapa sih ? Kok sampe segitunya. Aku takut dia kenapa-napa,”
“Tadi tuh Mega dimarahin abis-abisan sama papa gara-gara tadi di sekolah permainan pianonya jelek. Papa ngerasa malu punya anak kayak dia. Kata-kata papa itu yang nyebabin Mega sampe kayak gitu. Aku tau rasanya jadi Mega. Pasti sakit banget digituin,” cerita Pelangi. “Bahkan aku ngerasa iri sama dia. Dia bisa bebas mengekspresikan dirinya. Sementara aku diatur jadwal mama dan papa. Udah kayak robot. Kalau boleh aku mau tukeran sama Mega, aku jadi Mega dan Mega jadi aku,” lanjut Pelangi.
Rain hanya melongo mendengar cerita sahabatnya itu tentang saudara kembarnya yang ternyata mereka saling menyayangi dan saling peka, walau dalam kenyataannya mereka tidak terlalu dekat. Hening setelah itu. Tidak ada yang berbicara satu pun. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pelangi masih tidak percaya papanya tega berbicara seperti itu kepada Mega, yang tidak langsung melukai perasaannya juga. Sementara Rain heran Mega bisa bereaksi seperti itu dan bahkan menangis. Padahal sebelumnya Mega jarang menangis. Akhirnya Rain pamit dan hanya menitipkan salam untuk Mega. Dan Pelangi masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar, Pelangi hanya termenung memikirkan Mega. Ia ingin menghibur Mega namun ia takut mengganggu keadaan hati Mega yang sedang galau. Ia hanya menulis diari di atas tempat tidurnya:
Aku gak ingin dibanding-bandingin sama Mega. Aku adalah Mega. Mega adalah aku. Selamanya kami itu sama. Kami mempunyai ikatan batin yang kuat. Satu terlukai maka yang satu terlukai pula. Aku gak tega ngeliat Mega menangis seperti itu. Walau ia berusaha terlihat kuat, namun hatinya sangat lemah. Seandainya dapat ditukar, aku ingin menukarkan diriku dengan Mega agar dia menjadi anak kesayangan mama dan papa.
Pelangi pun tertidur dengan pulas.

~continue

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part1)

Other POV

Semarang, 15 Agustus 1994
Sore itu pukul 18.00 Mega masih tampak berkeliaran di tengah lapangan, memantul-mantulkan bola basketnya. Sementara Pelangi sudah berkutat dengan piano klasiknya.
Pelangi dan Mega adalah 2 saudara kembar yang dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1980. Mereka kembar, namun sangat jauh berbeda. Mereka dilahirkan dari sepasang composer musik klasik ternama di kotanya. Oleh karena itu orangtua mereka menginginkan kedua anaknya menjadi pianis terkenal. Namun sayangnya hanya Pelangi yang tampaknya dapat mewujudkan itu. Karena Mega lebih menyukai dunia olahraga dan fotografi. Walau sangat ditentang kedua orangtuanya dia tetap saja “ngeyel” dan terus berkutat dengan dunianya itu. 

Megantari Amara Putri Rahardian
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 dan Mega masih berada di lapangan. Dia malas pulang, karena tentu saja dia akan diomeli mamanya karena pulang malam. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang karena perutnya sudsah minta untuk diisi, walau resikonya diceramahi sampai pagi. Itulah Mega, cuek tingkat tinggi. Ditengah jalan ia bertemu Rain, tetangga sekaligus sahabatnya dari kecil dan juga satu sekolah dengan Mega dan Pelangi. Oh ya, mereka sekarang berusia 15 tahun dan duduk dibangku kelas 1 SMU. Rain menemani Mega berjalan yang wajahnya sangat kusut sekaligus tegang karena akan segera mendapat omelan dari sang mama.
“Hei, kamu kenapa? Kusut banget,” sapa Rain yang mengagetkannya dari belakang.
“Biasa lah. Siap menerima gempuran dari nyoya besar” sahutnya seperti biasa, yang mungkin sudah dihapal luar kepala oleh sahabatnya itu.
“Udah aku duga. Hahhahahahaaha. Siapa suruh nakal” kata Rain samba mengacak-acak rambut Mega yang basah karena keringat.
“Huh!” sahut Mega kesal.
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Mega. Rumahnya tampak sepi. Pintu gerbangnya pun tertutup rapat, yang biasanya terbuka setengah kalau Mega belum pulang.
“Kok sepi banget. Pada kemana?” tanya Rain yang sedari tadi celingak-celinguk.
“Mana aku tau. Pada keluar kali. Untung gak dikunci. Masuk dulu yuk” ajak Mega.
Tanpa pikir panjang Mega langsung menarik tangan Rain dan masuk ke dalam rumahnya.
“Eh, duduk dulu deh. Aku mau mandi dulu”
“Pantesan ada bau apa gitu. Ternyata kamu belum mandi”
“Ihhhh..” Mega melempar bantal besar kesayangannya kea rah Rain yang sengaja diletakkan di ruang tengah kalau-kalau dia ketiduran saat menonton televisi.
“Nihh..” Mega menyodorkan segelas air jeruk kepada Rain.
“Cepet banget kamu mandi. Masih bau tau,” ejek Rain.
“Enak aja. Aku tu mandi cepet tapi bersih. Gak lelet-lelet kayak kamu, tapi tetep gak bersih” balas Mega.
“Eh, bulan depan ada festival foto di Kota Lama. Ikutan yuk” ajak Rain yang juga gemar fotografi.
“Mmmm boleh boleh tuh. Obyek fotonya apa? Trus trus hadiahnya gede gak ? Kalo gak aku gak mau ikut, hehehe”
“Dasar mata duitan. Obyek fotonya sih bebas. Tapi kata kakak aku yang pernah ikutan biasanya yang menang tuh foto yang obyek fenomena gitu. Ya gak harus fenomena alam, bisa juga kayak kejadian di kehidupan sekitar kita. Kayak misalnya kecelakaan, pencurian, atau bahkan foto cowok lagi nembak cewek. Pasti menang tuh. Hahahahahaha”
“Ihhhh.. Gak penting banget yang bagian akhir tuh. Aku mau ikut ah. Aku udah ada ide buat obyek foto. Sebenarnya udah lama aku siapin sih. Cuma baru ada momen yang pas buat ditampilin.”
“Palingan laut lagi. Bosen ah.”
“Enak aja. Ini lain dari yang lain. Gimana kalau kita pergi ke bukit. Disana kan banyak tuh obyek foto yang keren. Kita ambil aja view dari atas bukit. Di bawahnya ka nada kayak perumahan penduduk gitu yang lumayan padat. Nah kan masuk temanya. Trus kita gabungin juga sama pemandangan disana. Jadinya lengkap kan.” Jelas Mega panjang lebar.
“Mmmmm. Boleh juga. Tumben pinter.”
“Enak aja. Selallu tauk”
Tiba-tiba penghuni rumah itu sudah pulang dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Eh, Rain. Dari jam berapa ?” sapa Pelangi yang baru datang. Dia menggunakan gaun dan tampil cantik. Seperti datang dari pesta.
“Eh, dari tadi sih, dari sejam yang lalu. Kamu dari mana? Rapi banget.” goda Rain.
“Dari acara launching album temen papa. Aku masuk dulu ya, mau ganti baju” kata Pelangi yang langsung beranjak ke kamarnya yang bertuliskan PELANGI di pintu kamarnya.
“Eh, ada Rain” sapa mama si kembar yang ramah.
“Iya tante. Aku lagi rundingin masalah pelajaran di sekolah sama Mega. Ya udah tante aku pulang dulu ya, udah malam. Permisi tante,” pamit Rain yang langsung menuju pintu rumah Mega dan hanya tersenyum kepada papa si kembar.
“Besok bawain aku konsep fotonya” SMS Rain kepada Mega yang sebenarnya ingin diberitahu Rain saat tadi masih di rumahnya, namun mamanya keburu pulang dari pesta.

Pagi hari di sekolah.
Mega tampak berlari-lari mengejar seseorang. Seseorang itu tak lain dan tak bukan adalah sahabat laki-laki satu-satunya, Rain. Ia tampak ingin menyampaikan sesuatu yang ternyata masalah festival foto itu.
“Nihh” kata Mega yang terengah-engah karena lelah berlari.
“Okee. Ntar aku koreksi sama kakak aku deh. Kamu kenapa? Lari dari rumah?”
“Iya. Lari ngejer kamu dari rumah ! Cepet banget sih jalannya. Udah yuk ke kelas. Capek,” bentak Mega yang tidak memperdulikan wajah Rain yang kebingungan.
            Pelajaran pertama adalah kesenian alias kelas music. Pelajaran yang sungguh membosankan bagi Mega. Namun sangat menyenangkan bagi Pelangin yang sangat menyukai music. Apalagi sekarang pembina mereka adalah ayah Mega dan Pelangi. Hari yang sungguh sial bagi Mega. Nilai musicnya tidak pernah bagus. Padahal mama dan papanya selalu membina Mega bermain music. Tapi memang dasarnya Mega tidak suka music, malah benci. Namun hari ini dia tidak bisa bolos pelajaran music lagi, karena sang papa yang mengajarnya. Arrrrrgggghhhh….
“Sial, aku gak bisa bolos hari ini.” gerutu Mega pada Rain.
“Yaelah. Tenang aja kali, ga. Lagian kan yang ngajar papa kamu.”
“Ihh lebih gak enak di ajarin papa daripada Bu Rita. Aku pasti kena bentak terus”
“Mega, Rain. Coba kalian mainkan salah satu alat music di depan” kata Pak Rahardian, papa Mega dan Pelangi, tiba-tiba mengagetkan.
“Tuh kan. Mati deh kita ! Pasti gara-gara kita ngobrol tadi.” Gerutu Mega lagi.
“Aduuhhh. Kok aku ikut kena sih?” gerutu Rain juga.
Dengan terpaksa dan dengan seadanya mereka memainkan gitar dan piano. Dan kegaduhan pun terjadi di ruangan itu.
            Di rumah sepulang sekolah.
            Mega mendapat omelan habis-habis dari sang papa gara-gara permainan pianonya yang hancur tadi saat pelajaran music.
“Kamu itu mau menghina papa ya? Permainan kamu tadi benar-benar membuat papa malu. Rahardian Dwi Putra seorang composer kondang di kota ini punya anak yang permainan pianonya jelek seperti itu. Mau taruh dimana muka papa Mega? Tadi itu di depan teman-teman kamu, apalagi di depan murid-murid papa di sekolah music? Coba kamu contoh adik kamu Pelangi. Sudah pintar, tekun, lembut, pintar main pianonya. Nah kamu pintar gak terlalu, malas, kasar, ugal-ugalan. Mau jadi apa kamu nanti? Pemain basket atau fotografer? Apa yang bisa diharapkan dari itu? Coba kamu sering ikut latihan dengan adik kamu, pasti permainan piano kamu tidak sehancur tadi. Mega Mega. Papa capek harus ngomong hal ini sama kamu. Kamu gak pernah ngerti” omel sang papa panjang lebar. Tanpa menjawab perkataan papanya Mega langsung berlari ke kamar dan menangis.
            Di dalam kamar, Mega menangis namun tak bersuara sedikit pun. Ia tidak mau kelihatan lemah di depan mama dan papanya juga Pelangi. Berkali-kali terdengar suara ketukan pintu dari sang mama dan Pelangi namun ia tidak menggubris. Ia tetap diam dan tidak mengubris. Bahkan Rain sampai datang ke rumahnya untuk membujuk Mega keluar. Namun Mega tetap diam dan tenggelam ke dalam bantal besarnya yang empuk. Di atas tempat tidurnya Mega menulis di dalam diarinya:
Kenapa sih aku dibanding-bandingin terus sama Pelangi ? Apa aku memang jauh lebih buruk dibanding dia ? Apa aku tidak ada baiknya di mata papa dan mama? Apa aku salah menggemari basket dan fotografi ? Itu keahlian ku. Kalau masalah piano itu urusan Pelangi. Aku gak suka piano. Aku berharap tidak terlahir dari keluarga komnposer seperti ini. Aku ingin berteriak tapi aku tak bisa. Aku terlalu lemah. Sangat lemah dan lelah.
Akhirnya Mega tertidur pulas dengan air mata yang masih bercucuran di pipinya.


~continue