Sabtu, 29 Januari 2011

ANTARA PELANGI DAN MEGA (part3)

Other POV
(flashback)

             Mega terbangun dari tidurnya. Ia beranjak dari tempat tidur dan menyiapkan alat fotografinya. Bahkan ia memasukan beberapa baju ke dalam ranselnya. Ia keluar lewat pintu belakang agar tidak terlihat oleh orang-orang di rumahnya. Namun tanpa kesadarannya, Pelangi mengikutinya dan memberitahu Rain untuk mengikuti Mega juga.
            Mega pergi ke Kota Lama untuk melihat foto-foto yang pernah menjadi juara dalam festival ini, siapa tahu ia langsung mendapat inspirasi. Ia juga memotret-motret sekitaran Kota Lama. Lalu ia beranjak mengandarai bus menuju daerah bukit yang pernah diceritakannya kepada Rain. Ia ingin mencari ketenangan di atas sana. Pelangi dan Rain masih mengikutinya.
            Sesampainya di bukit ia mengambil nafas panjang dan mulai mendaki gunung kecil itu ke puncaknya. Mega ingat waktu ia dan Pelangi masih kecil sering diajak berlibur mama dan papanya ke bukit ini. Dan saat mereka sudah sampai di puncak bukit, mereka turun dengan cara berguling-guling di atas rerumputan. Mega tersenyum simpul dengan mata berkaca-kaca. Ia mengitari daerah bukit dan turun ke permukiman warga yang cukup padat. Sesekali ia mengambil gambar beberapa penduduk yang ada di sana. Hingga akhirnya ia melihat sebuah gubuk kumuh yang ditempati seorang wanita tua yang sangat renta. Ia mendatangi nenek itu. Nenek itu hanya tersenyum dan member isyarat untuk mengikutinya. Mega langsut menurut dan mengikutinya. Nenek itu mengajaknya ke puncak bukit. Seketika tiba-tiba Mega merasakan memori lamanya kembali terputar. Saat ia tertawa bersama keluarganya, piknik di bawah bukit, berguling-guling bersama Pelangi. Semuanya kembali terputar. Dan tanpa sadar Mega menitikkan air mata. Ia seperti rindu dengan keluarganya yang dulu. Sangat rindu. Ia pun berlutut sambil menangis dan berteriak sekencang-kencangnya. Rasa sakit hatinya masih terasa akibat perkataan papanya waktu itu. Ia marah, marah sekali. Namun kemudian memori kembali terputar ketika papanya menangis karena khawatir terhadap Mega yang terserempet mobil, papa yang mengajarinya menghitung. Rasa benci itu kemudian berubah menjadi rasa cinta yang begitu besar. Nenek itu lalu tersenyum dan berkata “Mereka menyayangimu, Mega”. Seketika itu juga nenek itu menghilang, membiarkan Mega merenungi perkataannya tadi. Mega menangis, keras sekali. Hingga ia lelah dan tertidur pulas dibawah binaran sang mentari.

~continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar